Jauh Berbeda Dengan Sang Ayah
Saat ini misi Ali Fauzi benar-benar tidak sama. Ia kerja untuk menolong bekas jihadis tinggalkan kehidupan yang penuh kekerasan serta untuk hentikan anggota baru dari masuk dengan gelombang barisan militan selanjutnya di Asia Tenggara. Faktanya ialah jika semakin gampang untuk mengambil orang ke kelompok-kelompok teroris, tuturnya. Mereka perlu menarik pelatuk serta beberapa orang akan masuk dengan mereka tapi proses deradikalisasi memerlukan waktu. Itu harus dilaksanakan langkah untuk langkah.
Serta misi barunya sudah tiba dengan ongkos pribadi yang tinggi. Intimidasi pada saya ketat sekali, tidak cuma gempuran verbal tapi intimidasi kematian. Tetapi, jujur, saya tidak takut sebab saya ketahui apakah yang saya kerjakan ialah betul. Saya siap serta siap mati untuk lakukan ini. Beberapa video perang asing - di Afghanistan, Bosnia serta Daerah Palestina, dilihat lewat telephone pegang dari desa Jawa mereka yang tenang - yang berikan motivasi Ali Fauzi serta saudara-saudaranya untuk masuk dengan kelompok-kelompok militan. Kami lihat video gempuran beringas pada masyarakat sipil. Saya ingin lakukan jihad membuat perlindungan beberapa orang Muslim dari beberapa penindas. Dengan darah muda serta panas saya ingin menantang.
Sesaat saudara-saudaranya pergi berperang bersama-sama mujahidin, di Afghanistan, Ali Fauzi masih semakin dekat ke rumah, masuk dengan gerilyawan Islam yang berusaha untuk tanah air Muslim di Filipina selatan. Saya betul-betul ingin mati disana. Saya memikirkan kematianku sendiri setiap waktu, tuturnya. Saya yakin jika saya terbunuh dalam pertarungan, saya akan langsung ke surga serta berjumpa dengan beberapa malaikat disana. Itu yang disebutkan oleh tutor kita tiap hari. Saat saudara-saudaranya datang dari Afghanistan, mereka mengaplikasikan apakah yang sudah mereka dalami di luar negeri.
Teror Bom Bali
Pada Oktober 2002, mereka ada antara barisan yang meledakkan dua bom yang membidik club malam di wilayah Kuta Bali, pulau yang terkenal di golongan pelancong internasional. Saya menyaksikannya di TV serta saya kaget, ada sangat banyak mayat, kata Ali Fauzi. Itu arahkan faksi berkuasa langsung pada kita. Dua saudara lelakinya, Ali Ghufron serta Amrozi, dilakukan sesaat yang ke-3, Ali Imron, ada dibalik jeruji besi seumur hidup. Ali Fauzi, yang memperjelas ia tidak terjebak dalam pemboman Bali, habiskan 3 tahun penjara sebab pelanggaran berkaitan intimidasi yang lain. Waktu itu hidupnya ambil arah baru yang menegangkan.
"Polisi memperlakukan saya dengan benar-benar manusiawi. Bila mereka menganiaya saya karena itu kemungkinan tujuh generasi sesudah saya akan melawan pemerintah Indonesia," tuturnya. "Saya membenci polisi, kami memandang mereka untuk Setan. Itu yang kami sampaikan. Tapi faktanya betul-betul tidak sama. Waktu itu semua perspektifku betul-betul beralih." Ia berjumpa dengan korban pemboman yang dilaksanakan kelompoknya. Saya menangis. Hatiku meleleh, lihat dampak mengerikan bom kita. Itu yang membuatku betul-betul ingin beralih dari agen perang jadi pejuang perdamaian.
Saat panggilan doa malam berdering di semua desa Tenggulun, tikar doa diadakan dalam suatu alun-alun di samping masjid penting desa. Mereka pas di samping kantor Circle of Peace, yayasan yang dibangun Ali Fauzi di tahun 2016 untuk mengubah orang dari berlebihanisme. Acara doa malam hari ini diperintah oleh dua korban bom, tamu kehormatan di desa ini yang sempat jadi tempat barisan militan yang lakukan gempuran yang merusak hidup mereka. Saya seringkali bawa korban ke komune, kata Ali Fauzi, sebab berjumpa dengan mereka ialah hal yang merusak ego saya.
Teror Bom Di Indonesia
Di monitor di samping panggung, satu video grafis memperlihatkan akibatnya karena semua bom di Indonesia. Tatap muka yang mengagumkan. Antara hadirin ialah polisi yang tangkap anggota komune ini, dan mereka yang sudah jalani hukuman penjara sebab pelanggaran terorisme. Mereka dengarkan beberapa korban perbincangan bom, lewat air mata, mengenai rasakan sakit yang mereka derita. Antara hadirin ialah Zulia Mahendra yang berumur 33 tahun. Ia masih remaja saat ayahnya, Amrozi, diamankan, dijatuhkan hukuman mati dan dilakukan sebab bom Bali.
Amrozi dipanggil "pembunuh yang tersenyum" oleh media sebab ia tidak memperlihatkan penyesalan semasa persidangan, menyeringai serta melawan kematiannya. Sesudah tatap muka, Mahendra menegur dua korban bom. Mereka berangkulan serta berpegangan tangan, serta ia berkali-kali menjelaskan maaf. "Saya ingin meminta maaf, bukan lantaran saya salah. Tetapi ia ialah ayahku serta ini ialah korban dari aksi keluargaku. Saya mempunyai tanggung jawab untuk mohon maaf, atas nama ayahku."
Mahendra sudah alami transformasi yang mengagumkan. Saat ayah saya dilakukan, saya ingin membalas sakit hati. Saya ingin belajar bagaimana membuat bom , akunya. Tapi seiring berjalannya waktu serta dengan tuntunan dari paman saya - Ali Fauzi serta Ali Imron - mereka membuat saya sadar jika itu ialah hal yang keliru untuk dilaksanakan. Serta saya masuk dengan project mereka untuk menolong perkembangan teroris yang lain. Bagaimana saya jadi diri saya ini hari ialah perjalanan yang benar-benar, benar-benar panjang, kata Mahendra. Tetapi saya tiba ke tempat dimana saya pahami jika jihad tidak membunuh orang atau berperang, itu dapat bermakna kerja keras untuk keluargamu.
Berfikir Panjang Sebelum Mengikuti Jejak Sang Ayah
Satu malam, kata Mahendra, ia memandangi putrinya yang sedang tertidur serta pikirkan ayahnya. Saya tidak mau anak saya harus lewat apakah yang saya punya. Bila saya meneruskan jalan ayah saya, anak saya akan dibiarkan. Saya ketahui jika jihad yang pas ialah jaga mereka - membuat perlindungan mereka. Tetapi ia menjelaskan ia mempunyai rekan-rekan yang sudah masuk dengan kelompok-kelompok militan sempalan di Indonesia, yang berkaitan dengan barisan Negara Islam (IS). Terdapat beberapa fakta kenapa seorang pergi mengarah itu - keadaan ekonomi mereka, tidak ada hubungan... apakah yang di ajarkan pada mereka serta dengan siapa mereka dikuasai.
Ali Fauzi mengetuk pintu penjara Lamongan. Ini ialah tempat yang dekat untuknya, sudah tiba kesini berulang-kali untuk berjumpa dengan bagian keluarga yang habiskan waktu dan juga untuk kerja dengan terpidana baru untuk coba serta mengganti hidup mereka. Pekerjaan di dalam kelompok islam radikal saya tidak dilandaskan pada teori. Ini pengalaman dari hidup. Saya ialah seorang pejuang serta teroris, jadi saya masuk dalam sel untuk rekan. Tetapi ia hadapi perlawanan serta dilihat oleh sebagian orang untuk pengkhianat sebab kerja dengan polisi. Mereka menjelaskan jika saya serta lebih dari pada seorang kafir (yang tidak beriman) dibanding polisi atau penjaga penjara. Saya dengan teratur hadapi penyimpangan online serta memberikan ancaman panggilan telephone. Tapi tidak apa-apa. Saya bisa mengatasinya, tuturnya sekalian tersenyum.
Dari 98 orang yang sudah kerja dengan kami semenjak 2016, dua sudah keluar dari penjara serta langsung kembali pada jalan militan mereka. Deradikalisasi tidak gampang sebab kamu bermasalah dengan emosi serta langkah memikir orang, kamu harus memberikan mereka obat yang pas. Serta terkadang kita salah.
Kadang mereka melakukan secara benar
Sumarno, tuturnya, salah satu cerita kesuksesan. Ia membawaku ke kebun kering, disamping jalan di luar desa. Disini Sumarno menjelaskan ia sembunyikan senjata punya Jemaah Islamiyah, sesudah pemboman Bali. Sesudah jalani hukuman penjara 3 tahun, Ali Fauzi menolong Sumarno membangun usaha kecil - satu perusahaan perjalanan yang tawarkan beberapa paket ziarah ke Mekah. Saat ini saya ingin memberikan kembali lagi pada warga, kata Sumarno. Dengan perusahaan perjalanan ini, saya mengharap saya dapat tinggalkan kehidupan kekerasan di belakangku.
Duduk di kantor pandai ber-AC di Paciran, 20 menit berkendara dari desa, ia menjelaskan ia grogi sebelumnya memberitahukan client-nya mengenai waktu lalunya yang kejam, serta berhati-hati tidak untuk menjelaskan dari desa mana ia berasal. Tetapi saat ini ia mengawali tour dengan yang dikatakannya cerita penebusan. Saya sebutkan saya ialah sepupu Ali Gufron serta Amrozi yang dilakukan sebab lakukan pemboman Bali. Saya memberitahu mereka: 'Saya ialah sisi dari barisan mereka. Tapi sukur pada Allah saya sudah sembuh dari langkah memikir busuk itu. Serta saya ialah pemandu wisata Anda ke Mekah.
Dalam suatu ruang di samping masjid desa, satu club sesudah sekolah berjalan. Beberapa anak yang kenakan pakaian warna-warni membaca Alquran. Beberapa orangtua mereka ada dibalik jeruji besi atas dakwaan terorisme. Beberapa guru termasuk juga istri Ali Fauzi, Lulu, serta Zumrottin Nisa, yang menikah dengan Ali Imron. Kami mengutamakan pada mereka jika tidak kesemua orang yakin hal sama, kata Lulu. Jika ada beberapa orang di komune kami yang non-Muslim serta kami harus memperlakukan mereka dengan hormat semasa mereka tidak coba mengganggu kepercayaan kami.
Tetapi ia katakan mereka belum memberikan keyakinan kesemua orang
Ada yang untuk serta melawan misi baru kita. Mereka yang masih tetap militan tidak menyenangi kita saat ini. Mereka menjauh dari kita, tuturnya. Kami dahulu satu barisan dengan misi yang sama tapi kami beralih sesudah pemboman Bali membunuh sangat banyak orang tidak bersalah, beberapa dari mereka ialah Muslim. Ada lainnya yang belum beralih. Pada Mei tahun kemarin, satu keluarga pembom bunuh diri menggempur tiga gereja di Jawa Timur. Si ayah memburu satu, putra-putranya yang remaja memburu keduanya, serta istri dan dua putrinya, umur 12 serta sembilan, meledakkan diri mereka pada yang ke-3.The attackers were part of the Jamaah Ansharut Daulah (JAD) network,
Yang berkaitan dengan IS dengan cara longgar. JAD sudah lakukan rangkaian gempuran serigala pada pasukan keamanan Indonesia serta minoritas agama. Yang paling baru ialah gempuran pisau, oleh pasangan muda, pada perwira tinggi keamanan negara, Wiranto. Di kantor Circle of Peace, Lulu Fauzi menjelaskan ia kaget wanita ambil sisi yang aktif. Suamiku kerja keras untuk pastikan bekas terpidana terorisme tidak kembali lagi. Ia menjadikan satu mereka serta ia dapat mengganti beberapa orang. Tapi beberapa orang masih radikal. Kita tidak dapat betul-betul menghapusnya, tuturnya.
Saat kami melalui desa, telephone Ali Fauzi terus berdering. Ia terima telephone dari seorang yang barusan dibebaskan, sesudah jalani hukuman atas dakwaan terorisme. Orang itu memerlukan pertolongan untuk memperoleh perumahan. Telephone lain dari seorang ibu yang putranya dicheck polisi. Lusinan orang dari komune kami pergi berperang dengan Negara Islam di Suriah serta Irak, tuturnya. Baru saja ini, seorang anggota IS ditahan oleh polisi di sini. Jadi kelompok-kelompok militan masih ada serta mereka masih memberikan ancaman Indonesia. Saat ini ia ada pada pihak yang ia deskripsikan untuk pertarungan menantang berlebihanisme serta intoleransi. Bila kita kerja keras serta menyertakan semua komune, karena itu saya masih mengharap kita dapat memenangi perang ini.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar